Pages

Selasa, 15 November 2011

PUISI GUS MUS

AGAMA

Agama
adalah kereta kencana
yang disediakan Tuhan
untuk kendaraan kalian
berangkat menuju hadiratNya
Jangan terpukau keindahannya saja
Apalagi sampai
dengan saudara-saudara sendiri bertikai
berebut tempat paling depan
Kereta kencana
cukup luas untuk semua hamba
yang rindu Tuhan
Berangkatlah!
Sejak lama
Ia menunggu kalian.


14 Nopember 2006 03:00:01
Rembang, 12.12.2005



Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu

Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu
bersama-sama

Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah di mana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia tanah air kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Di sana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya

Sayang, di manakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu.


1 Desember 2005 22:58:56
Rembang, 2000

Aku Merindukanmu, O, Muhammadku

Oleh: A Mustofa Bisri

Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu, o. Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -

bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu.


27 April 2006 23:06:17
(kumpulan : sajak-sajak bumilangit)

Al Hadi

Ya Hadi

Molen gemuruh
Memuntahkan
isi perutnya
mengorek
semen bertimba-timba
menjejali lobang-lobang
membangun dinding
dan doa pun mengalir
dalam irama kemanusiaan
dzikir menuju Tuhan

Menuju Tuhan
Menuju Tuhan

Kita menemukan kebugaran
dalam nyanyian panjang
kehidupan untuk Tuhan.


27 Desember 2005 01:30:47
(Malang, 2005)

Al’Isyq

Oleh : A. Mustofa Bisri

Bintang-bintang ceria. Kereta senjata.
Tanganku yang manja.
Bangku Tua. Betismu yang belia.
Warung siang. Majalah-majalah usang.
Lututmu yang merangsang.

Dingklik antik. Jemariku yang menggelitik.
Malam senyap. Kamar pengap.
Nafasku yang megap-megap.
Purnama di genting kaca. Pahamu yang menyala.
Mentari berseri. Gang-gang berkelok.
Pinggulmu yang elok.
Becak berlari. Kelakianku yang menari.
Bus-bus nakal. Tiang-tiang terminal.
Nafsuku yang binal.
Jalan panjang. Lehermu yang jenjang.
Gardu telpon. Hujan rintik.
Rambutmu yang cantik.
Pasar asing. Dadaku yang bising.
Rumah kuna. Dipan sederhana.

Mataku yang terpesona.
Bantal tanpa warna. Tidurmu yang lena.
Baju hitam. Kutang kusam. Celana dalam.
Matamu yang terpejam.
Ketiak apak. Mulut mendongak. Puting papak.
Bulu-bulu rampak.
Setanku yang merangkak.
Langit fajar. Mushalla terlantar. Tikar terhampar.
Sujudku yang hambar.

Semua saksi
Tak mencatat kencan-kencan kita
Juga tanda-tanda sayang
Yang kutebar di sekujur dirimu
Sirna entah ke mana.
Sementara hingga kini
Bau lipatan-lipatan tubuhmu
Masih mengganggu perjalanan ibadahku
Apakah cinta kita tak utuh
Mengapa kita tak juga bersetubuh ?


23 Desember 2005 00:03:42
1399/1455

Baju I

Baju yang kau pergunakan
Menyembunyikan dirimu
Terus kau pertahankan
Sampai suatu ketika
Kau terpaksa telanjang
Dan kau tak lagi mengenali
Dirimu sendiri.


12 Januari 2006 23:17:06
2001

erita-derita

hari-hari setiap hari berlarik-larik kata
dengan huruf-huruf bagai jarum-jarum
berkarat menusuki mata dan hatiku yang renta
berita anarki dan pelecehan hukum
berita aniaya berita derita
berita mengalirkan darah dan serum
berita pertikaian bermain senjata
berita melibas tawa dan senyum

berita mengabari kita
berita mengabarkan kita.


2010

BILA KUTITIPKAN

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri.


1415

CINTAMU

bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku kan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku
seolah-olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku?
pulanglah ke dirimu
aku tak kemana-mana.


2005

Dajjal

Hoahaha hahahoa
Bermata satu berlisan ganda
Bertelinga satu bertangan sejuta
Hoahaha sungguh perkasa
Hahahoa alangkah kuasa
Hoahaha hahahoa
Hahahoa menggenggam surga
Hoahaha menimang neraka

Hoahaha hahahoa
Hahahoa mengajarkan hak asasi
Hoahaha menebarkan intimidasi
Hahahoa menatarkan demokrasi
Hoahaha mengamalkan tirani

Hoahaha hahahoa
Mengibarkan panji kemanusiaan
Dan merobek-robeknya
Hoahaha hahahoa
Menyuarakan kebenaran
Dan memenjarakannya

Hoahaha hahahoa
Mencanangkan peradaban
Dan mencincangnya
Hoahaha hahahoa
Menyerukan pembaruan
Dan menyurutkannya
Hahahoa hoahaha

Beritamu hahahoa deritaku
Guritamu hoahaha gulitaku
Serakahmu hahahoa sekaratku
Seteruku hoahaha sekutuku
Pengaruhmu hahahoa pembunuhku
Pelurumu hoahaha peluruhku
Nirwanamu hahahoa nerakaku.


20 April 2006 23:00:22
1991. A. Mustofa Bisri

DARI TITIK

Entah mengapa, mendengar berpulangnya mbah Surip, saya jadi teringat mbah Djito. Lalu kucari arsip sajakku Dari Titik dan ketemu. Ini:

DARI TITIK
In memoriam Mbah Djito

dari titik ia berangkat
tapi ia kemudian tak menyusun titik-titik
menjadi huruf, kata, atau apalagi kalimat –
kecuali satu huruf yang secara misteri mempesonanya:
miiimm --
ia juga tak merangkainya menjadi lukisan artistik
meniru dirinya atau alam karena ia memang otentik
ia hanya membuat titik
setelah itu membiarkannya beranak-pinak
menjadi titik-titik banyak
lalu menata diri menjadi garis-garis
menjadi lengkung-lengkung
lalu lingkaran-lingkaran
kubus-kubus
kerucut-kerucut
kelokan-kelokan
labirin

atau melepasnya apa adanya
dalam belukar kehidupan
setelah mencelupnya
dalam cahaya kalbunya
penuh iman

dari titik ia mulai ke titik ia berhenti
dari titik ia hidup ke titik ia mati
(titik cahaya
yang memancarkan pendar-pendar cahaya
lalu kembali ke sumber cahaya
sang mahacahaya
alangkah bahagia!)


Oktober 2003
DEMO

mengapa ketika sekalian alam
tak sanggup menerima
tugas mengelola bumi
kalian mengajukan diri
tak tahu diri
kini
ketika kalian melibas dan merusak
saling tumpas dan saling gasak
lalu
langit sekalian badai dan petirnya
laut sekalian kerak dan ombaknya
bumi sekalian tanah dan sampahnya
dunia sekalian harta dan bendanya
membantu kalian
mempercepat kehancuran
kalian mengeluh
atau lupa?


2005

DI PELATARAN AGUNGMU NAN LAPANG

Melihat dan membaca berita tentang haji dan menyaksikan kesibukan kawan-kawan yang akan dan sedang berangkat naik haji, tiba-tiba saya ingin menuliskan kembali sajak lama saya yang berjudul seperti di atas:


Di pelataran agungMu nan lapang
kawanan burung merpati
sesekali sempat memunguti
butir-butir bebijian
yang Kautebarkan
Lalu terbang lagi menggores-gores biru langit
melukis puja-puji
nan hening

Di pelataran agungMu nan lapang
aku setitik noda
setahi burung merpati
menempel pada pekat gumpalan
yang menyeret warna
bias kelabu
berputaran
mengabur melaju
Luruh dalam gemuruh talbiah
takbir dan tahmid
Dikejar dosa-dosa dalam kerumunan dosa

Ada sebaris doa
Siap kuucapkan
lepas
terhanyut airmata
tersangkut di kiswah
nan hitam

Di pelataran agungMu nan lapang
aku titik-titik tahi merpati
menggumpal dalam titik noda
berputaran
mengabur melaju
Luruh dalam gemuruh talbiah
takbir dan tahmid
Mengejar ampunan dalam lautan ampunan
Terpelanting dalam
khauf dan raja


Mekkah, 1407
Di Timur

a. mustofa bisri:

di timur
di timur
kusaksikan pemujaan
terhadap reruntuhan peradaban
oleh generasi yatim
yang silau dan panik.

di barat
kusaksikan kebiadaban
peradaban terhadap peradaban
oleh generasi lalim
yang gagu dan mekanik.
di mana-mana
kusaksikan manusia
membunuh dirinya
dengan canggihnya.


15 Desember 2005 01:53:57
Semarang-Jakarta 2005

DOA KEMERDEKAAN

Ya Allah ya Tuhan kami
Di hari kemerdekaan negeri kami
Kami memohon kepadaMu, ya Allah
Ilhamilah kami untuk dapat menyadari dan mensyukuri
Dengan benar rahmat agung anugerahMu,
Nikmat kemerdekaan kami

Berilah kepada kami dan pemimpin-pemimpin kami
Kecerdasan memahami arti kemerdekaan yang benar
Berpuluh tahun kami dijajah oleh kebodohan kami
Berpuluh tahun kami dijajah oleh bangsa asing dan bangsa sendiri
Dan kini setelah merasa merdeka kami mulai dijajah
Oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri
Ya Allah ya Tuhan kami,
Jajahlah kami, jajahlah kami olehMu sendiri
Merdekakanlah kami
Jangan biarkan selainMu, termasuk diri-diri kami,
Ikut menjajah kami.

Jangan biarkan kami terus menjadi hamba-hambaMu
Yang tidak menyadari kehambaan
Jangan biarkan kami terus menjadi bangsa budak
Yang tidak menyadari kebudakan
Kuatkanlah kami untuk hanya menghamba kepadaMu
Dan menjadi tuan atas diri-diri kami.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahabijaksana
Karuniailah pemimpin-pemimpin kami kearifan dan kebijaksanaan
Bukakanlah hati mereka bagi menjunjung tinggi kejujuran dan menegakkan keadilan
Bagi mementingkan kepentingan bersama melebihi kepentingan sendiri
Karuniailah bangsa kami pemahaman terhadap makna kemerdekaan yang sesungguhnya
Agar dapat membedakan antara demokrasi dan anarki.
Karuniailah kaum beragama kami pemahaman terhadap makna agama yang sebenarnya
Agar dapat membedakan antara jihad di jalan Tuhan dan jihad di jalan setan.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengampun
Ampunilah dosa-dosa kami dan para pemimpin kami
Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang
Kasihi dan sayangilah kami seperti Engkau mengasihi dan menyayangi para kekasihMu

Amin.

OA

Lagi-lagi aku hanya bisa mengulang-ulang "Doa"ku ini:


kami tak berani menatap langit
bumi yang terbaring
terus mengerang
menghisap air mata kami
(tapi tak menghilangkan, sayang
bahkan menambah dahaga

or! Dor! Dor! Dor! Dor!

Dor!
Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa!

Dor! Dor!
Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!

Dor! Dor! Dor!
Hidup Persatuan Indonesia!

Dor! Dor! Dor! Dor!
Hidup Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan!

Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Hidup Keadilan sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia!

Dor!

Dor!

Dor Pancasila!

Dor! Dor!


8 Maret 2006 10:42:35
(KH A Mustofa Bisri, Ohoi Kumpulan Puisi Balsem, 1994).
Dunia serba tuhan atawa tuhan makin banyak

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di Jepang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan Pakta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Di mana-mana tuhan, ya Tuhan
Di sini pun semua serba tuhan
Di sini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!

Ya Tuhan!
  

21 April 2008 10:58:19
1987+1429

zikir Malam

Oleh: A. Mustofa Bisri

langit memimpin
Dzikir malam

Membaca wirid hening
Dalam hitungan
Renyai hujan
Dan manik-manik
Keringat dinginku

Angin mendesirkan
Tasbih bersama
Pucuk-pucuk pohon
Di mulut poriporiku

Sesekali kilat
Memucatkan rumput-rumput
Mencuatkan lidah-lidah laut
Dalam gemuruh

Tahmid bersama
Khaufrajaku

Sementara petir
Dan guruh bergantian
Meneriakkan takbir
Dari puncak diamku

Langit memimpin
Dzikir malam
Di bumi kelam

Gelisahku.


15 Maret 2007 13:32:12
1415

FRAGMEN

A. mustofa bisri:


??? ???? ?????? ??????

YA ALLAH

Semoga tidak hanya mulut hamba
Hati hamba pun menyatakan
Hanya Engkau Tuhan
Tuhan hamba

YA RAHMAAN YA RAHIIM
Demi kasih sayang ibu
yang menahan kantuk sepanjang malam
agar puteranya tetap lelap
nyaman dalam hangat pelukan
dan merdu kidungnya,
limpahkanlah kasihsayangMu
wahai Sang Mahakasihsayang

Demi induk kuda yang hati-hati
meletakkan kaki-kakinya
agar tak menginjak anak-anaknya,
limpahkanlah kasihsayangMu
wahai Sang Mahakasihsayang

Demi burung yang tak tega
mendengar cicit piyik-piyiknya
dan segera melolohnya,
limpahkanlah kasihsayangMu
wahai Sang Mahakasihsayang

Demi para pengasih yang mengeluskan perhatian
pada bocah-bocah yatim yang papa,
limpahkanlah kasihsayangMu
wahai Sang Mahakasihsayang

Demi kerelaan kekasih
mengorbankan segala,
limpahkanlah kasihsayangMu
wahai Sang Mahakasihsayang

Wahai Sang Mahakasihsayang
yang membagi satu perseratus kasihsayangNya
kepada hamba-hambaNya yang pengasih dan penyayang,
pancarkanlah cahaya kasihsayangMu
di hati para pembenci dan pendengki
di hati raja tega yang tak berperasaan
Janganlah Engkau siksa mereka
dengan kegelapan kebencian
luapan kedengkian
dan kematian ruhani

YA MAALIKU YA QUDDUUS

Wahai Sang Mahapenguasa
Yang memberi kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau suka
Yang memberi kekuasaan kepada
nabi Yusuf, nabi Sulaiman, Iskandar yang agung
hingga Umar Ibn Abdul Aziz dan Sultan Agung
Yang memberi kekuasaan kepada
Namrud, Firaun, Nero si kaisar Roma
hingga Hitler dan Bush si raja Amerika

Wahai Sang Mahasuci
yang telah menyucikan hati nabi Ibrahim dan nabi Musa
hingga nabi Isa dan nabi Muhammad al-musthafa,
berikanlah kekuasaan kepada kami
atas diri-diri kami
dan sucikanlah hati kami
dari daki-daki kesombongan, kedengkian, dan keserakahan
dan dari kesewenang-wenangan jabatan dan kepentingan.

YA SALAAMU YA MU’MIN

Kedamaian dan ketentraman purnama dalam langit malamnya
Kedamaian dan ketentraman bayi dalam dekapan ibunya
Kedamaian dan ketentraman sufi dalam kefanaan wushulnya
Kedamaian dan ketentraman hati dalam kerelaan pemiliknya
Adalah bagian dari percikan rahmatMu
Wahai Sang Mahapemberi Kedamaian dan ketentraman
Percikkanlah kedamaian dan ketentraman di kalbu kami

Wahai Sang Mahapemberi rasa aman
Berilah kami rasa aman dariMu dalam ridhaMu
Bukan rasa aman yang meninabobokkan
penyembah sorga dalam ibadahnya
Bukan rasa aman yang meninabobokkan
penyembah dunia dalam kehidupannya

YA MUHAIMINU

Singa, serigala, ular, buaya, dan bahkan manusia
yang merasa diri perkasa
mengawasi tepatnya mengincar mangsa mereka
dengan mata mereka yang nyalang
Engkau Yang Mahaperkasa
mengawasi makhluk-makhlukMu semesta
dengan mata kasihsayang
Lindungilah kami dari incaran kekejian diri kami sendiri
dan apa saja yang membuatMu berpaling dari kami

YA ‘AZIIZU

Mereka yang merasa menang
cenderung sewenang-wenang
Mereka yang berjaya
cenderung suka menganiaya
menjarah yang kalah
menista yang tak berdaya

Engkau Yang Mahamenang di atas segala yang menang
Yang Mahajaya dari semua yang berjaya
Menangkanlah kami atas nafsu-nafsu kami yang rakus
Dukunglah kami menundukkan diri kami yang angkuh
Bantulah kami meraih kejayaan yang tak semu:
mahkota keridhaanMu

YA JABBAARU YA MUTAKABBIR

Penguasa-penguasa yang perkasa
Cepat atau lambat
hancur karena takabur
Khalifah yang lupa kehambaannya
lupa kelemahannya
dikejutkan oleh kejatuhannya

Hanya Engkaulah, wahai Yang Mahaperkasa
yang berhak takabur karena Engkau Mahasempurna
Kelebihan apa pun yang Engkau limpahkan kepada kami
janganlah Engkau jadikan penyebab lupa dan bangga diri
Lindungilah kami dari keangkuhan
yang menjauhkan kami dari kasihMu.


9 September 2006 01:33:53

o, damaiku, o resahku
o teduhku, o terikku
o gelisahku, o tentramku
o, penghiburku, o fitnahku
o harapanku, o cemasku
o tiraniku,
selama ini
aku telah menghabiskan umurku
untuk entah apa. di manakah
kau ketika itu, o, kekasih ?
mengapa kau tunggu hingga
aku lelah
tak sanggup lagi
lebih keras mengetuk pintumu
menanggung maha cintamu ?
benarkah
kau datang kepadaku
o, rinduku,
benarkah ?


23 Februari 2006 22:11:30
HANIEN

mestinya malam ini
bisa sangat istimewa
seperti dalam mimpi-mimpiku
selama ini

kekasih, jemputlah aku
kekasih, sambutlah aku

aku akan menceritakan kerinduanku
dengan kata-kata biasa
dan kau cukup tersenyum memahami deritaku
lalu kuletakkan kepalaku yang penat
di haribaanmu yang hangat

kekasih, tetaplah di sisiku
kekasih, tataplah mataku

tapi seperti biasa
sekian banyak yang ingin kukatakan tak terkatakan
sekian banyak yang ingin kuadukan
diambilalih oleh airmataku

kekasih, dengarlah dadaku
kekasih, bacalah airmataku

malam ini belum juga
seperti mimpi-mimpiku
selama ini
malam ini
lagi-lagi kau biarkan sepi
mewakilimu.


Rembang, 1999
29 Nopember 2007 07:12:03

(dari Sajak-sajak Cinta GANDRUNG)

HIJRAH?

Dari Mekkah
dengan wajah memerah
mentari melepas kami
di sebelah kanan
purnama siap sudah
mengawal dengan gairah
Bebatuan dan pasir
di kiri-kanan jalan seperti ikut berdzikir
Di atas kendaraan mewah berpendingin
di jalan mulus tanpa hambatan
dalam kenyamanan dan rasa aman
kami melaju bagaikan angin
dihela rindu kami kepada tuan

(Jauh di belakang
kulihat tuan berdua
tertatih-tatih di atas onta tua
melawan badai dan debu sahara
alam azab perjalanan
dalam kejaran setan-setan
hanya berbekal keyakinan
menggenggam kebenaran
ditunggu penuh rindu
oleh kaum beriman)

Tak terasa
kerlap-kerlip kota Madinah
telah tampak menyambut kami yang gelisah
Tak seperti penduduknya yang resah
menanti kekasih yang dirindukan,
kedatangan kami tak ada yang merasakan

(Mereka menanti tuan dan bergegasan
menuju perbatasan
gadis-gadis kecil kegirangan
menyanyikan tahniah kesayangan
Thala’al Badru ‘alainaa
min Tsaniyaatil Wadaa’
wajabas syukru ‘alainaa
maa da’aa lillahi Daa’
O, gembiranya!
O, syukurnya!
Gulita mendapat purnama
Dahaga memperoleh air telaga)

Lihatlah, kami tak seperti mereka
Tak segera menghadap paduka
Kami masih sibuk memilih-milih kamar
untuk beristirahat agar badan tetap bugar
Kami sangat mencintai diri kami sendiri
melebihi cinta tuan kepada kami
O, keterlaluannya!
O, taktahumalunya!

(Seribu kali tuanku lebih lelah dari kami
tapi tuanku menerima seadanya
berhenti di mana onta tuan berhenti
istirah di gubuk Abu Ayyub yang sederhana)

Ashshalaatu wassalaamu ‘alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Hari ini perkenankanlah kami menghadapmu, tuan
dengan segala malu dan rendah diri
Kemurahanmu, ya Rasulallah yang membuat kami berani
Kami datang dari negeri yang jauh sekali
yang rata-rata penduduknya
mengenal nama tuanku dan mengaku
mencintai tuanku melebihi lainnya
seperti mereka semua
pengakuan kami pun kiranya
baru sebatas mulut saja

Ashshalaatu wassalaamu ‘alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Kami sangat ingin tahu adakah paduka
mengamati juga
umat paduka di seberang sana
yang rajin berselawat sambil terus berdurhaka
terhadap paduka
Kasihsayang yang tuan ajarkan
dengan dalih mencintai tuan
mereka gantikan
dengan kebencian
Mereka bertakbir lebih lantang
Tidak seperti tuan,
tidak dengan ketawadhukan
tapi dengan amarah dan nada menantang
Tidak seperti tuan,
mereka tidak menghimpun kawan
tapi memperbanyak lawan
Tidak ramah tapi marah
Tidak mengajak tapi menolak
Tidak membangun tapi merusak

O, Rasularrahmah!
O, Rasul kasihsayang!
Kami bersaksi paduka telah menyampaikan
ayat rahmatan lil ‘aalamien itu
Kami sempat merasakan
kebenarannya melalui murid-murid salehmu
tapi kini apa yang dapat kami katakan
kebanggaan dan kecongkaan musyrikin Qureisy
ya Allah, telah menulari sebagian umatmu yang tak beres
Rahmatan lil ‘alamien
mereka ganti dengan laknatan lil ‘aalamien

Ashshalaatu wassalaamu ‘alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Sungguh kami ingin tahu
adakah seperti jasadmu
cahya kasihmu telah meninggalkan kami
O, malangnya umat ini
kalau begitu!
O, malangnya!

Ya Rasul, maafkanlah kami
Maafkanlah umatmu yang lemah ini
Kami menjadi panik dan bodoh
setelah ajaran ditinggalkan contoh

Ya Rasul, kami ingin seperti paduka
Hijrah tapi ke mana?


13 Februari 2007 02:13:25
Madinah, akhir 1423
IBU

Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam.

JADI APA LAGI ?

jadi apa lagi
yang bisa kita lakukan
bila mata sengaja dipejamkan
telinga sengaja ditulikan
nurani mati rasa

?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kepentingan lepas dari kendali
hak lepas dari tanggung jawab
perilaku lepas dari rasa malu
pergaulan lepas dari persaudaraan
akal lepas dari budi

?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila pernyataan lepas dari kenyataan
janji lepas dari bukti
hukum lepas dari keadilan
kebijakan lepas dari kebijaksanaan
kekuasaan lepas dari koreksi

?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kata kehilangan makna
kehidupan kehilangan sukma
manusia kehilangan kemanusiaannya
agama kehilangan Tuhannya

?

apalagi, saudara
yang bisa
kita lakukan

?

Allah,
kalau saja itu semua
bukan kemurkaan dari Mu terhadap kami
kami tak peduli

.

rembang, awal dzulhijjah 1418
Kalian Bilang

Oleh: A Mustofa Bisri

Kalian bilang
Belanda bule kulitnya
Biru matanya
Besar tubuh
Serakah sifatnya
Merekalah penjajah musuh kita

Kalian bilang
Jepang pucat kulitnya
Sipit matanya
Kecil tubuhnya
Kejam tabiatnya
Merekalah penjarah seteru kita

Tapi
Bukankah kulit mata dan tubuh kalian
Sama dengan kulit mata dan tubuh kami
Mengapa serakah dan kejam?


4 Juli 2006 18:34:43
16.2.1415
Kaum Beragama Negeri Ini

Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain

di negeri-negeri lain, demi mendapatkan ridha Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi Mu
mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba Mu sendiri
demi memperoleh rahmat Mu
mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil Mu
yang ingin sowan kepada Mu
nama Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili M

yang memiliki kelebihan harta membuktikan
kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan

mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut bedug

Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kaum Beragama Negeri Ini

Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain

di negeri-negeri lain, demi mendapatkan ridha Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi Mu
mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba Mu sendiri
demi memperoleh rahmat Mu
mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil Mu
yang ingin sowan kepada Mu
nama Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili M

yang memiliki kelebihan harta membuktikan
kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan

mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut bedug

Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Matahari Melaju

Oleh: A. Mustofa Bisri

Matahari melaju
dengan tenang tapi pasti
bagai tukang kredit yang sudah tahu
tugasnya menariki setoran
tabungan usia paspasan
dari setiap orang

Matahari melaju
dengan tertib dan rapi
sambil mengawasi
jalan yang semakin penuh
dan gaduh.
Kendaraan-kendaraan besar
Melibas kendaraan-kendaraan kecil
dan kendaraan-kendaraan kecil
melibas pejalan-pejalan kaki.

Darah berlelehan di mana-mana.
Matahari gundah
tapi tak brenti melaju.

Seorang ibu yang kesepian
mencoba bertanya kepada matahari :
"adakah jalan lain yang aman ?"
Tapi matahari diam saja.
Terus melaju dengan tenangnya.


8 Desember 2005 22:23:03
(1415 H)
MULUT

Di mukamu ada sebuah rongga
Ada giginya ada lidahnya
Lewat rongga itu semua bisa
kaumasukkan ke dalam perutmu

Lewat rongga itu semua bisa kautumpahkan
Lewat rongga itu airliurmu bisa
meluncur sendiri

Dari rongga itu
Orang bisa mencium bau apa saja
Dari wangi anggur hingga tai kuda

Dari rongga itu
Mutiara atau sampah bisa masuk bisa keluar
Membuat langit cerah atau terbakar

Dari rongga itu
mataair jernih bisa kaualirkan
Membawa kesejukan kemana-mana

Dari rongga itu
Kau bisa menjulurkan lidah api
Membakar apa saja

Dari rongga itu
Bisa kauperdengarkan merdu burung berkicau
Bisa kauperdengarkan suara bebek meracau

Dari rongga itu
Madu lebah bisa mengucur
Bisa ular bisa menyembur

Dari rongga itu
Laknat bisa kau tembakkan
pujian bisa kau hamburkan

Dari rongga itu
Perang bisa kau canangkan
Perdamaian bisa kau ciptakan

Dari rongga itu
Orang bisa sangat jelas melihat dirimu

Rongga itu milikmu
Terserah
kau.

MUNAJAT KAUM BINATANG

(Liputan eksklusif dari pertemuan rahasia
Masyarakat Binatang Peduli Alam)

Syahdan;
Di suatu malam yang senyap
ketika malaikat rahmat turun menawarkan ampunan
dan sekalian manusia lelap,
Para binatang dari berbagai etnis dan golongan
yang masih tersisa di muka bumi --
dari golongan binatang buas, binatang air, unggas
ternak, serangga, dan segenap binatang melata--
diam-diam berkumpul di padang gersang terbuka
yang dahulu merupakan rimba belantara
tempat tinggal mereka
untuk membicarakan nasib mereka
kaitannya dengan kelakuan dan perlakuan manusia
yang kezalimannya semakin merajalela.

Dalam pertemuan akbar masyarakat binatang itu
semua kelompok menyampaikan keluhan yang sama.
domba, kambing, buaya, ular, tikus, anjing dan kecoak misalnya
menyatakan bahwa selain dilalimi,
selama ini nama mereka
telah digunakan dan dinodai oleh manusia
dengan semena-mena.

Setelah semua menyampaikan keluhannya
tentang nasib mereka yang kian sengsara akibat ulah manusia
dan mengakui ketidakberdayaan mereka
akhirnya disepakati saat ini juga
mengadukan ihwal mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Demikianlah;
Onta yang mereka tunjuk memimpin doa
dengan khusyuk mulai memanjatkan munajatnya
dan sekalian binatang mengamininya

“Ya Allah ya Tuhan kami;
Ampunilah kami.
Malam ini kami yang masih tersisa dari makhluk binatang
berkumpul menyampaikan
keluhan kami kepadaMu – kepada siapa lagi kami mengeluh
kalau bukan kepadaMu—
dan ampunilah kami bila kami tergesa-gesa
menyampaikan munajat kami ini.
Sebelum kaum manusia yang Engkau angkat menjadi khalifahMu
memergoki dan menghabisi kami, perkenankanlah
Kami menyampaikan jeritan kami.
Istighatsah kami.

Ya Allah ya Tuhan Yang Mahamengetahui;
Karena Engkau, selama ini kami siap mengabdi
dan rela berkurban untuk manusia.
Tapi manusia atas nama khalifah dengan sewenang-wenang
melalimi kami.
Mereka jarah tempattinggal kami
atau memorak-porandakannya
Mereka rampok makanan kami
atau menghancurkannya
Mereka rebut peran kami
atau menghentikannya
Mereka saingi naluri kami
atau mengalahkannya
Mereka santap keturunan kami
atau memusnahkannya

Mereka rampas kehidupan kami
Sebelum sempat kami nikmati

Engkau beri mereka kekuasaan atas dunia
Namun mereka membiarkan diri mereka dikuasai dunia.
Maka semakin hari
kelaliman dan keisengan mereka semakin menjadi-jadi.

Puji-syukur bagiMu ya Tuhan
Engkau telah menghajar mereka
Melalui tangan-tangan mereka sendiri
Mereka kini panik dan di antara mereka bahkan menjadi kalap
Dengan bangga mereka saling terkam dan saling basmi
Mencabik-cabik kemanusiaan mereka sendiri
Dan kami pun semakin tidak bisa mengenali mereka
karena mereka sudah sama dengan kami.
Bahkan dalam banyak hal mereka melebihi kami sendiri

Ya Allah ya Tuhan yang Mahaadil
Kami akui kadang-kadang kami saling terkam dan memangsa
Namun Engkau tahu karena kami terpaksa.
Bukan karena kerakusan dan kebencian.
Di antara kami memang ada yang kejam,
tapi kami tidak membakar, menyiksa,
dan sengaja memusnahkan
Karena kami tahu itu hakMu semata.
Mereka bahkan dengan berani membawa-bawa namaMu
untuk menghancurkan nilai-nilai ajaranMu yang mulia
Atas namaMu mereka meretas tali persaudaraan
Yang Engkau suruh jalin
Atas namaMu mereka mengobarkan kebencian
Yang Engkau benci.

Ya Allah ya Tuhan kami yang Mahabijaksana
Kini di kalangan manusia ada juga yang berdoa
dan melakukan istighatsah
Karena merasa resah
Tapi apakah ada yang benar-benar merasa bersalah?
Mereka tidak malu terus meminta kepadaMu
Padahal segala yang mereka perlukan --
yang mereka minta atau tidak mereka minta--
terus Engkau limpahkan kepada mereka
dan mereka nikmati tanpa mereka syukuri.
Ya Allah ya Tuhan kami yang Mahapengasih
Kamilah yang lebih pantas melakukan istighatsah
Karena kami adalah makhlukMu yang paling kalah.

Ya Allah ya Tuhan Yang Mahamurah;
Kami tidak meminta apa pun untuk diri kami
Kami sudah puas dengan apa yang Engkau anugerahkan kepada kami
Kami hanya meminta untuk kebaikan khalifahMu
Karena hanya dengan kebaikan mereka
Kami dapat dengan tenang bersujud dan bertasbih kepadaMu.

Kami memohonkan ampunan untuk mereka
Terutama untuk mereka yang tidak merasa perlu
memohon ampunan karena tidak merasa bersalah
atau tidak merasa malu.
Ya Tuhan,
Jangan terus Engkau biarkan kalbu mereka
tertutup noda-noda dosa
Sehingga nafsu menguasai mereka
dan mengaburkan pandangan jernih mereka
Ya Tuhan,
Sadarkanlah mereka akan hakikat kehambaan dan kekhalifahan mereka
agar mereka tetap rendah hati meski berkuasa
agar mereka tidak terus asyik hanya dengan diri mereka sendiri
agar nurani mereka tak terkalahkan oleh hawa nafsu dan setan
agar kasihsayang mereka tak terkalahkan oleh dendam dan kebencian
agar mereka tidak menjadi laknat dan benar-benar menjadi rahmat
bagi alam semesta.

Ataukah Engkau ya Tuhan
Memang hendak mengganti mereka
Dengan generasi yang lebih beradab?
Amin.
NEGERI SULAPAN

pulang dari negeri kecil di timur tengah
dengan kagum kang sobari bercerita
bak alfu-lailah-walailah
tentang tanah gersang yang disulap
menjadi taman sari yang asri
oleh orang-orang badui
tentang bangsa nomad
yang menjadi majikan terhormat
luar biasa, dahsyat!

masih kalah dengan kita disini, kataku
disini sorga
disulap sekejap menjadi neraka
raja-raja adiguna
menjadi budak-budak hina-dina
zamrud katulistiwa
menjadi tinja dimana-mana.


Juni 2005

Negeri Teka-Teki

Jangan tanya, tebak saja
Jangan tanya apa
Jangan tanya siapa
Jangan tanya mengapa
Tebak saja
Jangan tanya apa yang terjadi
Apalagi apa yang ada di balik kejadian
Karena di sini yang ada memang
Hanya kotak-kotak teka-teki silang
Dan daftar pertanyaan-pertanyaan
Jangan tanya mengapa
Yang di sana dimanjakan
Yang di sini dihinakan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membunuh buruh dan wartawan
Siapa merenggut nyawa yang dimuliakan Tuhan
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya mengapa
Yang di sini selalu dibenarkan
Yang di sana selalu disalahkan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membakar hutan dan emosi rakyat
Siapa melindungi penjahat keparat
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya mengapa
Setiap kali terjadi kekeliruan
Pertanggungjawabannya tak karuan
Tebak saja
Jangan tanya siapa
Beternak kambing hitam
Untuk setiap kali dikorbankan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membungkam kebenaran
Dan menyembunyikan fakta
Siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya siapa
Jangan tanya mengapa
Jangan tanya apa-apa
Tebak saja.


23 Maret 2006 19:25:42
Rembang, Oktober 1997


Oleh : A. Mustofa Bisri

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka berwudlu dengan tisu basah berparfum
Berjum’atan di kantor dengan tak lupa shalat tahiyyatal kantor
Imam dan khatibnya cukup televisi 50 inch
Tak memerlukan uang transport atau gaji

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka mendapatkan jodoh
Melalui computer biro jodoh
Dan mereka kawin via telpon
Dengan penghulu tape recorder
Dan mas kawin kartu kredit

Mereka berkomunikasi jarak jauh
Dengan bahasa-bahasa yang tak saling menyentuh
Mereka tak lagi berbeda pendapat
Karena beda pendapat menghabiskan enersi
Dan tidak praktis sama sekali
Mereka menggantinya dengan kebencian dan permusuhan

Toh senjata-senjata mutakhir siap dipergunakan
Mulai caci maki tajam hingga rudal-rudal kejam

Kaum muslimin pun modern
Bukan, bahkan agaknya sejak lama sekali
Mereka sendiri sudah merupakan robot-robot sejati.


17 Februari 2006 01:07:38
UISI BALSEM*)

Mungkin ada yang belum baca 'Puisi Balsem'ku yang konon sempat dijadikan 'puisi wajib demonstran' di zaman pak Harto:

KAU INI BAGAIMANA ATAWA AKU HARUS BAGAIMANA

kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?


1987

*) Puisi Balsem adalah puisi tanpa resep; mungkin bisa menghilangkan pening sebentar, tapi tidak menjamin peningnya tidak kembali lagi.

sajak cinta

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet, si majnun qais kepada laila
belum apa-apa

temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah yusuf dan zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam adam hawa

aku adalah ombaksamuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilatdangemuruhmendungmu

aku adalah wangibungamu
lukaberdarah-darahdurimu
semilirsampaibadaianginmu

aku adalah kicauburungmu
kabutpuncakgunungmu
tuahtenungmu

aku adalah titik-titikhurufmu
huruf-hurufkatamu
kata-katamaknamu

aku adalah sinarsilaupanasdanbayang-bayanghangatmentarimu
bumipasrahlangitmu

aku adalah jasadruhmu
fayakunkunmu
aku adalah a-k-u-k-a-umu


(permakan dari sajak lama, th 1995)
elamat datang di negeri bokong!

Aku tak tahu mengapa, tiba-tiba aku ingin menuliskan kembali 'sajak' ini:

selamat datang di negeri bokong!
negeri sejuta kubah bokong
negeri pengembang peradaban bongkong
penggoyang kemapanan bokong

negeri pengimport kloset terbesar di dunia
negeri yang tak pernah cukup
dengan kursi-kursi yang ada
karena di negeri bokong
bokong adalah prioritas utama
maka di negeri bokong
orang berkelahi berebut bokong
atau tempat-tempat bokong

selamat datang di negeri bokong!
negeri sejuta kubah bokong
negeri pengembang peradaban bongkong
penggoyang kemapanan bokong

negeri dengan falsafah hidup bokong
dimana bokong mesti dikedepankan
dan muka dibelakangkan
karena itu di negeri bokong
meski ktp dan pasport juga harus ada pasfotonya
tapi bukan kepala dan muka yang harus tampak
pasfoto di negeri bokong haruslah menampakkan bokong

di negeri bokong
bokong adalah lambang negeri
yang harus dihormati

di negeri bokong
semuanya boleh diabaikan
asal bokong dijunjung tinggi

di negeri bokong
bukan iq bukan eq juga bukan
sq yang menjadi ukuran
tapi aq, ass quotient

selamat datang di negeri bokong
negeri berbudaya bokong
yang dipimpin oleh bokong-bokong

negeri dimana bokong dipuja
di mesjid di pura dan di gereja
diwiridkan di tempat-tempat keramat
dan gedung mewah perwakilan rakyat

kalian bilang
bokong tempatnya di belakang
karena kalian
belum tahu nikmatnya bokong bergoyang

cobalah ikuti
bangsa bokong ini
dan para pemimpinnya
berdzikir dan bergoyang
dan rasakan!
bokong bokong bokong bokong bokong...


Rembang, 20 Juli 2003

a tuhan, pelajaran apa ini?

ya tuhan, pelajaran apa ini?
kau kurniakan kepada kami ironi-ironi
yang mengusik pikiran dan nurani:

kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja
dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa
kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja
dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya

ya tuhan, pelajaran apa ini?

kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasa
yang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca
oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa

ya tuhan, pelajaran apa ini?

khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka
dan kini mereka ikut larut atau terpana
oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya
untuk mengangkatnya setelah mangkatnya

ya tuhan, pelajaran apa ini?


rembang, 9/1/2010

0 komentar:

Poskan Komentar